Senam lantai. Apa yang pertama kali kalian bayangkan saat
kata senam lantai diucapkan? Kebanyakan orang masih belum mengenal salah satu
cabang Olahraga ini, karena di Indonesia sendiri masih cukup jarang ditemukan,
melihat peminatnyapun yang tidak cukup banyak seperti Olahraga Badminton dan
Sepak Bola. Saya akan memperkenalkan anda terlebih dahulu, apa, bagaimana dan
seperti apa Olahraga Senam Lantai itu.
Senam
adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang olahraga tersendiri
maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga lainnya. Berlainan dengan cabang
olahraga lain umumnya yang mengukur hasil aktivitasnya pada obyek tertentu,
senam mengacu pada bentuk gerak yang dikerjakan dengan kombinasi terpadu dan
menjelma dari setiap bagian anggota tubuh dari komponen-komponen kemampuan
motorik seperti : kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelentukan, agilitas dan
ketepatan. Dengan koordinasi yang sesuai dan tata urutan gerak yang selaras
akan terbentuk rangkaian gerak artistik yang menarik.
Menurut
asal kata, senam (gymnastics) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya:
"untuk menerangkan bermacam-macam gerak yang dilakukan oleh atlet-atlet
yang telanjang". Dalam abad Yunani kuno, senam dilakukan untuk menjaga
kesehatan dan membuat pertumbuhan badan yang harmonis, dan tidak
dipertandingkan. Baru pada akhir abad 19, peraturan-peraturan dalam senam mulai
ditentukan dan dibuat untuk dipertandingkan. Pada awal modern Olympic Games,
senam dianggap sebagai suatu demonstrasi seni daripada sebagai salah satu cabang
olahraga yang teratur. Olahraga senam sendiri ada bermacam-macam, seperti :
senam kuno, senam sekolah, senam alat, senam korektif, senam irama, turnen,
senam artistik. Secara umum senam memang demikian adanya, dari tahun ke tahun
mengalami penyempurnaan dan semakin berkembang. Yang dulunya tidak untuk
dipertandingkan, namun sejak akhir abad 19 mulai dipertandingkan. Dibentuklah
wadah senam internasional, dengan nama Federation International de Gymnastique
(FIG), yang mengelola antara lain :
1. Senam Artistik
(Artistic Gymnastics).
2. Senam Ritmik (Modern
Rhytmic).
Saya sendiri merupakan seorang atlet Senam Artistik sejak
duduk di kelas 2 SD, dan sekarang saya adalah seorang mahasiswi Pendidikan
Matematika di Universitas Siliwangi. Banyak yang bertanya mengapa saya lebih
memilih Matematika ketimbang Olahraga yang sudah menjadi bakat atau kemampuan
saya, dan inilah yang saya ingin bagikan dengan anda. Ini merupakan cerita
bagaimana saya mulai menyukai Matematika melalui Olahraga Senam lantai.
Saat saya duduk dikelas 2 SD, seorang guru Olahraga
datang menemui saya dan dia berkata kepada saya untuk mengikuti latihan rutin
Senam Lantai di Gedung Gelanggang Muda ( GGM ) setiap hari Rabu dan Sabtu jam 4
sore. Saat itu bukan hanya saya yang mengikuti latihan senam di GGM tapi teman
– teman yang lainpun datang. Namun, hanya saya dan Dicky yang terus melanjutkan
latihannya. Dicky adalah saudara kandung saya, anak dari adik ibu saya. Setelah
hampir 1 tahun saya berlatih, pelatih mengajak / memilih saya untuk mengikuti PELATDA
di Bandung saat itu. Itu merupakan pertandingan pertama saya setelah
memenangkan kejuaran Senam Lantai antar kecamatan se-Kota Tasikmalaya. Disana
semua atlet se-Jawa Barat berkumpul, dari mulai yang Junior sampai Senior
sekitar dari umur 6 tahun sampai 26 tahun. Saya melihat ke sekitar saya, banyak
papan – papan nilai disetiap alatnya. Senam Artistik sendiri memiliki beberapa
alat dan antara perempuan dengan laki – laki itu berbeda. Untuk perempuan,
terdapat 4 alat yaitu Lantai ( matras sepanjang 12 m x 12 m ), Meja Lompat (
Panjang 1.60 m, dan Tinggi 1.20 m), Palang Bertingkat ( Panjang 2.40 m, Tinggi
palang bawah 1.50 m – 1.60 m dan Tinggi palang atas 2.30 m – 2.50 m), dan Balok
Keseimbangan (Panjang 5m, dan Tinggi 1.20 m ).
Gambar
1. Alat Lantai
Di alat Lantai ini, khusus untuk atlet putri diberikan
batasan waktu yang harus dicapai dan tidak boleh kurang atau lebih yaitu selama
90 detik, dan diharuskan menggunakan musik sebagai pengiring rangkain gerakan.
Kita juga tidak diperbolehkan untuk melewati batas garis yang sudah ditentukan
atau berada di zona aman sepanjang 12 m x 2 m.
Gambar
2. Alat Meja Lompat
Pada Meja Lompat, kita akan melakukan lari cepat di jalur
yang disediakan, dengan panjang maksimal 25 meter, sebelum melompat ke spring
board. Dengan memanfaatkan tolakan dari spring board, kita mengarahkan tangannya ke meja lompat.
Posisi tubuh dijaga sementara melakukan tolakan ( blok dari meja lompat hanya
memanfaatkan pergerakan bahu) dengan alat meja lompat. Kita bisa melakukan lompatan
seperti straddle, handspring, cukahara dan masih banyak yang lainnya. Biasanya
kita akan diberi kesempatan 2 kali Lompatan.
Gambar
3. Palang Bertingkat
Pada alat ini kita dituntut untuk melakukan gerakan
dengan bertumpu pada kedua lengan saja. Kita juga harus melakukan gerakan di
kedua palangnya secara bergantian. Biasanya gerakan yang dilakukan seperti
giant ( front giant atau back giant ).
Gambar
4. Balok Keseimbangan
Pada alat ini kita harus melakukan gerakan dengan
memperhatikan keseimbangan yang penuh, karena melihat lebar dari alat ini
sendiri hanya sebesar telapak kaki atau sekitar 10 cm. Gerakan di alat ini
hampir sama seperti yang kita lakukan di Lantai, hanya saja dengan jarak dan
ukuran yang diperkecil.
Kembali lagi ke topik pembicaraan. Saat itu saya melihat
disetiap alat, nilai yang keluar berbeda – beda. Saat itu juga saya mulai
memusatkan perhatian saya ke satu alat saja yaitu Lantai. Saya masih bingung
dari mana nilai – nilai itu didapat dan seperti apa sistematika penilaian dari
juri – juri. Meskipun pada saat itu saya belum diberi kesempatan untuk mendapat
gelar juara, namun saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Barulah
dari sana saya mulai menggiatkan latihan saya, dan mulai memfokuskan diri untuk
pertandingan selanjutnya. Sayangnya, ketika kemampuan saya sudah cukup
meningkat baik, saya harus mengalami kecelakaan ketika latihan di Balok
Keseimbangan yang menyebabkan saya harus mendapatkan operasi jahitan dan
dirawat selama 3 hari di Rumah Sakit. Itu juga membuat saya tidak boleh
melakukan aktivitas yang terlalu berat selama kurang lebih 2 bulan. Menyesal,
marah, takut, kecewa semuanya bercampur aduk ditambah saya harus kehilangan
kesempatan mengikuti pertandingan yang diadakan di Karawang saat itu dan juga
mengalami trauma di alat Balok Keseimbangan. Untungnya itu tidak menyurutkan
semangat saya untuk tetap latihan. Saya selalu datang ke GGM untuk latihan,
bukan latihan seperti biasanya hanya membaca buku kode poin dan melihat yang
lainnya berlatih agar nanti saya bisa menyusul mereka. Ada rasa beruntung dalam
diri saya ketika saya sedang sakit, yaitu saya dapat mempelajari bagaimana juri
– juri melakukan penilaian terhadap gerakan – gerakan yang dilakukan. Di buku
kode poin itu nampak jelas berapa poin yang akan didapatkan dalam satu buah
gerakan, dan berapa banyak poin yang akan dikurangi ketika melakukan kesalahan.
Saya mulai menuliskan semua rangkain gerakan saya, dan menjumlahkan poin – poin
yang akan saya dapatkan pada akhirnya.
Dalam kejuaraan yang resmi, penilaan senam didasarkan
pada : Tingkat kesulitan = 2.40, Persyaratan khusus = 1.20, Nilai bonus = 1.40,
Penampilan/ pelaksanaan = 5.00 dan Nilai maksimal = 10.00
Tingkat
kesulitan berhubungan dengan persyaratan gerakan sulit yang harus dipenuhi oleh
pesenam dalam satu rangkaiannya di satu alat. Dalam senam artistik, gerakan
sulit dikelompokkan menjadi beberapa elemen, yaitu elemen gerakan A, elemen B,
elemen C, elemen D dan elemen E. Elemen A adalah gerakan-gerakan yang masuk
kategori gerakan dasar dan mudah. Ke dalam kelompok ini masuk gerakan-gerakan
seperti guling depan-belakang, headspring, handspring, flic-flac, dan
lain-lain. Elemen B adalah gerakan-gerakan yang lebih sulit dari elemen A.
Contohnya adalah salto belakang dan salto depan termasuk ke dalam elemen B ini.
Sedangkan elemen C diwakili oleh gerakan-gerakan seperti double salto belakang,
salto belakang dua twist, salto depan satu putaran, dsb. Dan elemen D diwakili
oleh gerakan seperti Double salto depan, double salto belakang lurus, dll.
Adapun nilai dari setiap elemen adalah sebagai berikut: A = 0.10, B = 0.20, C =
0.40, D = 0.60, (elemen E tidak bernilai, karena hanya berguna untuk mendapat
nilai bonus yang nilainya adalah 0.20.)
Persyaratan
khusus menunjuk pada gerakan-gerakan yang memenuhi ciri-ciri yang
dipersyaratkan oleh alat senam yang bersangkutan. Pada setip alat, selalu ada 3
buah persyaratan khusus, yang masing-masing bernilai 0,40. Sehingga jumlah
maksimal dari faktor Persyaratan Khusus adalah 1,20, yaitu sebagai hasil dari 3
persyaratan khusus X 0,40 = 1,20. Jika seorang pesenam dalam rangkaiannya
kekurangan satu buah persyaratan khusus, maka nilai faktor persyaratan
khususnya adalah 0,80 : yaitu hasil dari : 1,20 - 0,40 (1PK) = 0,80. Bisa saja
seorang pesenam tidak mendapat nilai sama sekali dalam faktor Persyaratan
Khususnya, jika tidak ada satu pun gerakan yang dilakukannya termasuk yang
dipersyaratkan. Oleh karena itu, ia bisa saja mendapat nilai NOL dari faktor
PK-nya.
Nilai
bonus dalam senam diperoleh jika pesenam menampilkan gerakan melebihi syarat
tingkat kesulitan yang bernilai D. Misalnya jika pesenam mampu menampilkan 3
buah gerakan D dalam penampilannya, maka nilai bonusnya adalah 0,30: karena
nilai bonus untuk gerakan D adalah 0,10. Jika pesenam mampu menampilkan 3
gerakan E, maka bonusnya 0,60: karena bonus untuk gerakan E = 0,20. Jadi
tergantung dari nilai bonus yang berhasil dikumpulkan, nilainya akan bertambah
terus. Dengan ketentuan tidak melebihi nilai maksimal 1,40.
Nilai
maksimal dari pelaksanaan adalah 5,00. Cara penilaiannya sedikit berbeda dengan
3 faktor sebelumnya karena dari faktor pelaksanaan, apa yang harus dilihat
wasit adalah kesalahan yang dilakukan oleh pesenam. Jika pesenam melakukan
kesalahan, wasit akan memotong atau mengurangi nilainya dari 5,00. Tergantung
dari kesalahannya, wasit akan memotong berdasarkan ketentuan sbb: Kesalahan
kecil : 0,10 = Contohnya melangkah kecil, bengkok badan, atau tangan dan kaki. Kesalahan
medium : 0,20 = Contoh : 2 langkah pada pendaratan, bengkok yang lebih besar. Kesalahan
besar : 0,40 = Contoh : bertumpu dengan dua tangan ketika mendarat. Jatuh :
0,50 = Jika pesenam jatuh duduk atau terlentang/telungkup. Jadi jika pesenam
melakukan satu atau beberapa kesalahan yang termasuk dalam kategori di atas
maka nilai pelaksanaannya akan dipotong secara proporsional. Dengan demikian, jika dari contoh di atas,
seorang pesenam mengumpulkan nilai dari setiap faktornya seperti berikut :
Tingkat kesulitan : 2,40, Persyaratan khusus : 0,80 (kurang 1 PH), Bonus : 0,30
(3 D), Pelaksanaan : 3,80 (5.00 - 1,20). Maka nilai akhir adalah : 7.30.
Bayangkan betapa sulitnya seorang pesenam ketika ingin
mendapatkan gelar juara dengan tuntutan kesempurnaan dalam setiap gerakan. Dari
sanalah saya mulai sering melakukan sebuah perhitungan dengan sebuah peluang
kesempatan yang akan terjadi. Sering sekali terjadi atau muncul sebuah
kejanggalan disetiap saya mengikuti penilaian dari juri dengan penilaian yang
saya lakukan sendiri.
Setelah lulus SD saya melanjutkan sekolah ke SMP di SMPN
4 Tasikmalaya. Ketika SMP, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi perwakilan
dari Kota Tasikmalaya di O2SN tingkat pelajar SMP se-Jawa Barat. Alhamdulillah
saya dapat membawa pulang 3 buah medali, yaitu 1 perak di alat Lantai, dan 2
perunggu di alat Meja Lompat dan Palang bertingkat. Itu juga yang membawa saya
dapat mengikuti Babak Kualifikasi PORDA saat itu. Sebelum layak untuk pergi
bertanding dalam Babak Kualifikasi PORDA di UPI Bandung saat itu, saya dan
semua atlet se-Kota Tasikmalaya mengikuti beberapa tes terlebih dahulu, seperti
tes kesahatan dan tes fisik yang dilaksanakan di sekitaran kampus Universitas
Siliwangi. Disana kami di tes daya tahan tubuh dengan berlari mengikuti ketukan
musik dan semakin lama semakin cepat, selain itu ada tes kecepatan berlari
sejauh 100 meter, push-up, sit-up, back-up selama 1 menit tanpa berhenti dan
masih banyak yang lainnya. Setelah dinyatakan lulus, barulah kami siap
bertanding pada Babak Kualifikasi PORDA. Nantinya akan dipilih masing – masing
4 orang putra dan putri untuk mewakili Kotanya sendiri. Beruntungnya saya dapat
lolos, dan menjadi salah satu perwakilan Kota Tasikmalaya dalam PORDA saat itu.
Kebiasaan saya masih belum berubah, saya masih sering menuliskan poin – poin
dalam rangkaian yang saya punya. Pada saat latihanpun saya sering memperhatikan
setiap gerakan yang dilakukan oleh atlet – atlet yang lain, agar menjadi sebuah
bayangan nantinya agar saya dapat menghitung seberapa besar peluang yang akan
didapatkan. Peluang kesempatan kami memang cukup kecil, dan ya terbukti
ternyata kami hanya berbeda beberapa poin dengan yang juara ketiga. Meskipun
saat itu saya belum bisa membawa pulang sebuah medali, saya juga sadar bahwa
gerakan yang saya atau kami lakukan jauh berbeda dengan mereka atau atlet dari
luar kota sepeti Bandung, Sukabumi yang memang memiliki fasilitas yang cukup
memadai bahkan sangat layak dibandingkan dengan kami yang latihan dengan alat
yang sealakadarnya. Meskipun begitu Kota Tasikmalaya masih sanggup membawa
beberapa medali emas, perak dan perunggu.
Setelah lulus SMP saya melanjutkan SMA di SMAN 1
Tasikmalaya melalui jalur prestasi. Tidak sedikit yang meremehkan saya hanya
karena saya masuk melalui jalur prestasi dan tanpa harus mengikuti tes tulis
dan wawancara terlebih dahulu. Padahal tanpa mereka sadari, saya sebenarnya
menyimpan amanah yang cukup besar dengan harus membawa nama baik SMAN 1
Tasikmalaya dalam bidang Olahraga khususnya Senam Lantai. Selama SMA saya
selalu mendapatkan medali emas pada pertandingan antar SMA se-Kota Tasikmalaya
saat itu. Saat SMA pula, saya ditunjuk oleh pelatih saya untuk mengikuti
pelatihan sebagai seorang pelatih senam lantai. Disana saya diberikan materi
dan penjelasan mengenai bagaimana cara melatih seorang pemula agar menjadi
seorang yang professional dan diajari pula bagaimana cara menilai atau menjadi
seorang juri. Saya mendapatkan kesempatan yang sangat luar biasa, dimana saya
dapat meningkatkan kemampuan saya dalam menghitung sebuah rangkaian gerakan
beserta peluangnya. Kemampuan Matematika disini sangat dibutuhkan sekali,
meskipun memang masih perhitungan yang cukup sederhana namun itu sangat berarti
bagi seorang atlet atau bahkan pelatihnya.
Tanpa disadari, Matematika selalu ada bahkan selalu
berdampingan dengan kehidupan manusia. Sekecil apapun itu, sesederhana apapun,
atau bahkan serumit apapun sebuah perhitungan, itu tetap disebut dengan Matematika. Matematika itu semacam sebuah jiwa dimana sebuah jiwa dapat hidup dan terus
berkembang setiap harinya bahkan jika waktunya datang, disaat jiwa itu sudah
mati atau padam maka yang ada hanyalah sebuah kekosongan. Inilah waktu yang tepat untuk membuat Matematika itu tetap hidup dan berkembang sebelum semuanya menjadi terlambat. Apakah ini sebuah pilihan ataukah hanya sebuah alasan? Itu semua tergantung bagaimana kita mendefinisikannya.













