MATEMATIKA
DAN MUSIK
Disusun
untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Bilangan
Oleh:
Tia
Nur Septiani 142151054
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SILIWANGI
TASIKMALAYA
2015
MATEMATIKA DAN MUSIK
Gambar
1. Matematika dan Musik
Cabang matematika yang disebut
kombinatorika memungkinkan seseorang untuk menghitung cara-cara yang sesuai
untuk mengkombinasikan pola-pola nada, misalnya angka – angka. Hal ini
memberikan taksonomi dan klasifikasi dari beberapa kombinasi yang muncul.
Matematika menjabarkan bagaimana kombinasi-kombinasi itu berhubungan dengan
nada dan bagaimana nada-nada tersebut dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk
lainnya. Kurt lewin menyatakan bahwa matematika memberikan kerangka yang cocok
pada ahli-ahli teori musik untuk memberitahukan cara yang paling baik untuk
mendengarkan sebuah karya musik. Matematika juga merupakan salah satu ilmu yang
sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Problematika yang sering terjadi
yaitu peluang dalam perjudian, bilangan pada tangga nada dan lain-lain.
Gambar 2. Kurt
Lewin
Penentuan-penentuan
nada-nada musik dengan menggunakan teknis matematis sangat menarik untuk
dibicarakan. Teori matematika yang digunakan disini berkaitan dengan teori
bilangan dengan bahasan aritmatika modulo dan kongruensi menjadi kunci dari
penyelesaian matematisnya.
Musik
sangat erat kaitannya dengan pendengaran dan perasaan. Untuk memahami musik,
seseorang harus terlatih pendengarannya dan perasaannya dalam memainkan
nada-nada yang ada di partitur musik. Jika pendengarannya tidak terlatih untuk
mendengar suara suatu nada, pemain musik tersebut sulit untuk menentukan
nada-nada yang sedang didengarnya. Begitu pula dengan perasaan pemain musik.
Jika perasaannya belum menyatu dengan nada-nada yang ada di partitur,
kemungkinan besar, pemain itu akan memainkan nada dengan tempo yang tidak
sesuai.
Gambar 3. Pythagorean-tuning
Teori
musik terkadang menggunakan matematika untuk memahami musik, meskipun musik tidak
memiliki dasar aksiomatik dalam matematika modern. Kaitan matematika dengan
musik sebenarnya ada sejak zaman Pythagoras. Doktrin utama mereka adalah bahwa
“seluruh alam terdiri dari harmoni yang timbul dari bilangan”. Namun saat ini,
matematika dan musik tampaknya sudah menjadi pengetahuan yang independen,
padahal ada hubungan erat diantara keduanya. Musik untuk matematika, dan
matematika untuk musik. Musik untuk matematika maksudnya musik membangun
keterampilan matematika. Musik dapat mengundang matematikawan untuk membuat
formula-formula baru sehingga memberikan kreasi musik yang lebih ekspresif dan
menarik. Matematika untuk musik maksudnya kreativitas dalam bermusik menjadi
takterbatas, karena adanya penemuan formula-formula baru yang bisa direalisasikan
ke dalam pembuatan musik.
Dalam seni musik, transposisi mengacu kepada perubahan
tangga nada/akord menjadi lebih rendah maupun lebih tinggi. Ada dikenal istilah
tangga nada, ini berisikan kumpulan nada-nada yang harmonis. Kumpulan dari
semua tangga nada dalam musik disebut tangga nada kromatik . Ada banyak jenis
tangga nada yang dapat disusun dari nada-nada yang ada pada tangga nada
kromatik. Tangga nada yang umum digunakan untuk memainkan suatu musik adalah
tangga nada mayor.
Notasi
(not) yang merupakan tanda untuk menulis nada. Pada dasarnya dalam musik
internasional terdapat 7 perbedaan pitch
class (kelas nada) yaitu ( C, D, E, F, G, A, B ) yang biasanya disebut 1 oktaf
dengan interval yang telah ditentukan yaitu 1 1 ½ 1 1 1 ½. Hal ini akan lebih
mudah jika diamati menggunakan garis bilangan.
Gambar 4. Nada Dasar Mayor
Nada-nada
pokok tersebut tidak dimainkan secara langsung namun bisa dinaikkan maupun
diturunkan setengah laras. Nama nada yang dinaikkan setengah laras mirip dengan
nama nada aslinya ditambah akhiran is disimbolkan dengan (#), tanda # disebut
tanda kruis, sharp, palang. Nama nada yang diturunkan setengah laras juga mirip
dengan nada aslinya ditambah akhiran es disimbolkan dengan (b), tanda b disebut
tanda mol atau flat.
Akibat
dari nada-nada yang dinaikkan atau diturunkan setengah laras adalah jumlah nada
dalam musik adalah 12 dengan jarak interval yang sama yaitu ½ , adapun
nada-nadanya adalah sebagai berikut (C, C#, D, D#, E, F, F#, G, G#, A, A#, B,)
atau (C, Db, D, Eb, E, F, Gb, G, Ab, A, B, Bb).
Gambar 5. Nada Bekruis
Gambar 6. Nada Bermol
Pada
pembahasan ini akan membahas nada berkruis atau nada bermol yang jumlahnya
adalah 12 nada. Dalam matematika ke 12 nada tersebut disebut sebagai anggota
himpunan nada berkruis. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa suatu
himpunan dapat dinyatakan dalam dua bentuk penulisan. Bentuk pertama adalah
tabular (tabular form) yaitu penulisan himpunan dengan mendaftar semua
anggotanya di dalam tanda kurung kurawal {}. Misalnya, X={ C, C#, D, D#, E, F,
F#, G, G#, A, A#, B,} yang menyatakan bahwa himpunan C memuat unsur C, C#, D,
D#, E, F, F#, G, G#, A, A#, B. Bentuk yang kedua adalah pencirian (set-builder
form) yaitu penulisan himpunan dengan menyebutkan sifat atau syarat keanggotaan
himpunan tersebut. Misalnya, C = {x | x nada berkruis}.
Untuk
menghubungkan keduabelas nada-nada tersebut ke dalam matematika maka harus
mengubahnya terlebih dahulu ke dalam bentuk bilangan yang disebut integer model
of pitch (bilangan bulat pada nada), sebagai berikut :
C
= 0
C#
= Db = 1
D
= 2
D#
= Eb = 3
E
= 4
F
= 5
F#
= Gb = 6
G
= 7
G#
= Ab = 8
A
= 9
A#
= Bb = 10
B
= 11
Transposisi
dalam musik berfungsi untuk menentukan tinggi rendahnya nada dalam suatu
rangkaian alunan musik sedangkan dalam matematika transposisi didefinisikan
sebagai berikut:
Definisi:
Misalkan n adalah bilangan integer mod 12, maka fungsi Tn : Z12
® Z12 didefinisikan dengan rumus Tn
(x) º x + n (mod12).
Keterangan
: n = transposisi ke….untuk n =
0,1,2,…11
x = himpunan trinada
dari
definisi di atas dijelaskan bahwa fungsi transposisi akord merupakan fungsi Tn
yang memetakan Z12 ke Z12. Adapun penjabaran dari rumus
fungsi transposisi akord dengan n = 0,1, 2, ...., 11 adalah sebagai berikut:
T0 º x + 0 (mod12)
T1 º x + 1 (mod12)
T2 º x + 2 (mod12)
T3 º x + 3 (mod12)
T4 º x + 4 (mod12)
T5 º x + 5 (mod12)
T6 º x + 6 (mod12)
T7 º x + 7 (mod12)
T8 º x + 8 (mod12)
T9 º x + 9 (mod12)
T10 º x + 10 (mod12)
T11 º x + 11 (mod12)
Rumus
transposisi di atas menggunakan mod 12 karena dalam musik terdapat 12
perbedaan
nada.
Akord
adalah kumpulan tiga nada atau lebih yang bila dimainkan secara bersamaan
terdengar harmonis. Akord digunakan untuk mengiringi suatu lagu, sedangkan
akord yang sering digunakan adalah akord mayor dan akord minor. Tipe akord yang
paling dasar dan yang paling sederhana adalah tipe triad mayor atau akord
trinada, yaitu penyusunan akord mayor dengan tiga nada penyusun. Triad mayor
terdiri dari nada pada urutan ke 1, 3, dan 5 atau dengan interval 2 1/2 - 1.
Misalnya jika ingin menyusun Akord dengan nada dasar C mayor maka nada yang
dimainkan adalah nada pada urutan ke 1, 3, dan 5 sebagai berikut C D E F G A B
C, sehingga akord C mayor adalah C E G yang mana jika dirubah dalam integer
model of pitch
menjadi
(0 4 7). Hal ini juga serupa pada akord dengan nada dasar F mayor. Nada dasar F
mayor adalah F G A A# C D E F, jadi nada yang dimainkan adalah nada F A C yang
mana jika dirubah dalam integer model of pitch menjadi (5 9 0), dan hal ini
juga berlaku untuk nada-nada yang lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat susunan
tangga nada mayor pada Gambar 7.
Gambar
7. Tangga Nada Mayor
Dari Gambar 7 dapat dibuat akord triad mayor yaitu dengan
cara memilih
urutan ke 1, 3 dan ke
5, kemudian akord tersebut dirubah dalam bentuk integer
model of pitch. Hal ini
dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar
8. Akord Triad Mayor
Selain dengan cara melihat Gambar 8 yakni
memilih nada urutan ke 1, 3
dan
5, himpunan triad mayor dapat ditentukan dengan cara menggunakan rumus
fungsi
transposisi dengan nada awal C mayor atau (0 4 7) adalah sebagai berikut :
·
Untuk n = 0
Tn (x)
º x + 0 (mod12) Tn (x) º x + 0 (mod12) Tn (x) º x + 0 (mod12)
T0 (0)
º 0 + 0 (mod12) T0 (4) º 4 + 0 (mod12) T0 (7) º 7 + 0 (mod12)
T0 (0)
º 0 (mod12) T0 (4) º 4 (mod12) T0 (7) º 7 (mod12)
Jadi untuk n =
0, C ( 0 4 7 ) menjadi C ( 0 4 7 )
·
Untuk
n = 1
T1 (0)
º 0 + 1 (mod12) T1 (4) º 4 + 1 (mod12) T1 (7) º 7 + 1 (mod12)
T1 (0)
º 1 (mod12) T1 (4) º 5 (mod12) T1 (7) º 8 (mod12)
Jadi untuk n =
1, C ( 0 4 7 ) menjadi C# ( 1 5 8 )
·
Untuk
n = 2
T2 (0)
º 0 + 2 (mod12) T2 (4) º 4 + 2 (mod12) T2 (7) º 7 + 2 (mod12)
T2 (0)
º 2 (mod12) T2 (4) º 6 (mod12) T2 (7) º 9 (mod12)
Jadi untuk n =
2, C ( 0 4 7 ) menjadi D ( 2 6 9 )
·
Untuk
n = 3
T3 (0)
º 0 + 3 (mod12) T3 (4) º 4 + 3 (mod12) T3 (7) º 7 + 3 (mod12)
T3 (0)
º 3 (mod12) T3 (4) º 7 (mod12) T3 (7) º 10 (mod12)
Jadi untuk n =
3, C ( 0 4 7 ) menjadi D# ( 3 7 10 )
·
Untuk
n = 4
T4 (0)
º 0 + 4 (mod12) T4 (4) º 4 + 4 (mod12) T4 (7) º 7 + 4 (mod12)
T4 (0)
º 4 (mod12) T4 (4) º 8 (mod12) T4 (7) º 11 (mod12)
Jadi untuk n =
4, C ( 0 4 7 ) menjadi E ( 4 8 11 )
·
Untuk
n = 5
T5 (0)
º 0 + 5 (mod12) T5 (4) º 4 + 5 (mod12) T5 (7) º 7 + 5 (mod12)
T5 (0)
º 5 (mod12) T5 (4) º 9 (mod12) T5 (7) º 0 (mod12)
Jadi untuk n =
5, C ( 0 4 7 ) menjadi F ( 5 9 0 )
·
Untuk
n = 6
T6 (0)
º 0 + 6 (mod12) T6 (4) º 4 + 6 (mod12) T6 (7) º 7 + 6 (mod12)
T6 (0)
º 6 (mod12) T6 (4) º 10 (mod12) T6 (7) º 1 (mod12)
Jadi untuk n =
6, C ( 0 4 7 ) menjadi F# ( 6 10 1 )
·
Untuk
n = 7
T7 (0)
º 0 + 7 (mod12) T7 (4) º 4 + 7 (mod12) T7 (7) º 7 + 7 (mod12)
T7 (0)
º 7 (mod12) T7 (4) º 11 (mod12) T7 (7) º 2 (mod12)
Jadi untuk n =
7, C ( 0 4 7 ) menjadi G ( 7 11 2 )
·
Untuk
n = 8
T8 (0)
º 0 + 8 (mod12) T8 (4) º 4 + 8 (mod12) T8 (7) º 7 + 8 (mod12)
T8 (0)
º 8 (mod12) T8 (4) º 0 (mod12) T8 (7) º 3 (mod12)
Jadi untuk n =
8, C ( 0 4 7 ) menjadi G# ( 8 0 3 )
·
Untuk
n = 9
T9 (0)
º 0 + 9 (mod12) T9 (4) º 4 + 9 (mod12) T9 (7) º 7 + 9 (mod12)
T9 (0)
º 9 (mod12) T9 (4) º 1 (mod12) T9 (7) º 4 (mod12)
Jadi untuk n =
9, C ( 0 4 7 ) menjadi A ( 9 1 4 )
·
Untuk
n = 10
T10 (0)
º 0 + 10 (mod12) T10 (4) º 4 + 10 (mod12) T10 (7) º 7 + 10 (mod12)
T10 (0)
º 10 (mod12) T10 (4) º 2 (mod12) T10 (7) º 5 (mod12)
Jadi untuk n =
10, C ( 0 4 7 ) menjadi A# ( 10 2 5 )
·
Untuk
n = 11
T11 (0)
º 0 + 11 (mod12) T11 (4) º 4 + 11 (mod12) T11 (7) º 7 + 11 (mod12)
T11 (0)
º 11 (mod12) T11 (4) º 3 (mod12) T11 (7) º 6 (mod12)
Jadi untuk n =
11, C ( 0 4 7 ) menjadi B ( 11 3 6 )
Maka dapat disimpulkan bahwa rumus
fungsi transposisi akord dapat diterapkan pada perpindahan semua nada dasar
pada sebuah lagu.
Paul
Erdos, matematikawan besar dunia, menyebut musik sebagai derau. Universalis
besar ini tahu kalau bagi matematika, segala yang bersuara adalah musik. Sebuah
keindahan auditori pada nada-nada. Musik karya Mozart misalnya, sempat dikritik
karena mengandung terlalu banyak nada. Tidak heran kalau ia menyumbangkan
sebagian uangnya untuk perkembangan musik klasik.
Gambar 9. Paul Edros
Matematikawan
besar Georg Cantor merupakan pecinta musik. Ia bahkan memiliki kerabat yang
merupakan komposer besar. Darah musik mengalir pada dirinya, tapi ia menjadi
matematikawan. Ia mengalunkan nada-nada menjadi angka dan membuat pencapaian
besar dalam matematika lewat konsep ketakhinggaan (infinity). Matematika bukan
hanya kebenaran, namun juga keindahan.
Gambar 10. Georg Cantor
Matematika
memiliki beberapa persamaan dengan musik. Sedikit orang yang berbakat untuk mengarang
musik, tapi banyak yang dapat memahami, menyanyikan atau semata menikmatinya.
Begitu juga matematika. Sedikit saja orang yang berbakat untuk menemukan fakta
matematika baru, tapi banyak yang dapat memahami, menggunakan atau semata
menikmati keindahannya. Masalahnya, bagaimana seorang guru matematika dapat
mengajarkan matematika seperti seorang bintang rock di atas panggung.
Persamaan
lain ada pada pemahamannya. Untuk memahami musik, orang harus menikmati seluruh
lagu. Dari awal hingga akhir, dan menangkap maknanya. Iramanya dan strukturnya.
Begitu juga memahami matematika. Untuk memahaminya, seseorang harus mempelajari
teori komprehensifnya, pembelajaran yang panjang dan penerapannya di dunia
nyata.
Dalam
musik, bukan hanya garis melodi yang dibuka membuatnya bertambah indah. Namun
juga variasi tema, modulasi mengesankan dalam lonjakan atau turunnya irama
dapat menjadi klimaks dari emosi. Dalam matematika, hal yang sama berlaku. Tipe
fenomena, metode pengajuan masalah yang bervariasi dan metode pemecahan masalah
yang mengesankan dapat menjadi klimaks dari kegembiraan seseorang yang
memecahkan soal matematika atau menemukan teorema baru.
Banyak
dari Anda mungkin tidak menyadari bahwa ternyata banyak sekali lagu yang
berhubungan dengan matematika, dan ini adalah beberapa contoh lagu yang
mengusung tentang matematika:
1. Tom
Lehrer, yang berjudul “That’s Mathematics!”,
2. Jack
Black, yang berjudul “Math Is A
Wonderful Thing”,
3. Math
Rock, yang berjudul “The Fraction”,
4. Ken
Ferrier and Antoni Chan, yang berjudul “Mathematical Pi”,
5. Jazzmine
Farol, yang berjudul “The Math Song”,
6. Mos
Def, yang berjudul “Mathematics”.
Mereka bukanlah
seorang matematikawan melainkan hanya seorang musisi yang menciptakan karya
seni melalui musik dengan lirik yang berhubungan dengan matematika. Mereka
membuktikan bahwa untuk membuat sebuah lagu itu bisa dengan menggunakan ilmu
pengetahuan juga. Kebanyakan memang mereka mengungkapkan bagaimana sulitnya
ketika belajar matematika, namun mereka mencoba membuatnya menjadi lebih
menarik yaitu mengajak belajar matematika dengan melalui sebuah lagu. Ini
membuktikan bahwa matematika bisa membuat kita menjadi lebih kreatif seperti
halnya dalam sebuah karya seni musik.
Bagaimana
rasanya jika saat dewasa Anda tidak lagi mendengarkan musik? Dan inilah
matematika yang kita bicarakan, banyak orang melupakan matematika. Padahal
seperti apa yang dikatakan Galileo, Dunia ditulis dengan matematika. Inilah
matematika, yang mencapai jauh ke dalam intuisi kita dan keluar melintasi alam
semesta. Matematika menjelaskan atom dan bintang, membantu kita memahami
bagaimana sungai dan pembuluh darah bercabang. Matematika adalah studi
bagaimana hubungan yang ideal di buat dan faktanya ada jauh di sana, di sekitar
dan di dalam diri kita. Ia bukan hanya membantu kita melihat keseimbangan
pendapatan dan pengeluaran; ia membantu kita melihat keseimbangan dalam tak
terhitung peristiwa dan bentuk dari simetri yang tersembunyi di balik keacakan.
Di saat yang sama, kita dapat melihat bagaimana ia independen, seperti halnya
musik. Baik murni maupun terapan, matematika tidak mengikut pada persuasi
ataupun keimanan, namun pada dirinya sendiri. Matematika adalah kebebasan, kita
memainkannya seperti memainkan musik.
Gambar 11. Galileo Galilei
DAFTAR PUSTAKA
Peter D.
Schumer, 2004. Mathematical Journeys, John Wiley & Sons, Inc
Mark Zegarelli,
2007. Basic Math and Pre Algebra for Dummies. John Wiley & Sons, Inc
Hans Rademacher,
1957. The Enjoyment of Mathematics. Princeton University Press
William Dunham,
1990. Journey Through Genius: The Great Theorems of Mathematics. John Wiley
& Sons, Inc.
Robert Kaplan
dan Ellen Kaplan, 2007. Out of the Labyrinth : Setting Mathematics Free. Oxford
University Press
Van Nostrand’s
Scientific Encyclopedia. 10th Edition. Vol. 3. Glenn D. Considine dan Peter H.
Kulik (editors).
StanleySadie,
(ed.), The New Grove Dictionary Music and Musicians, (London, Macmillan
Publisher, 1980), p. 485
http://www.lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/fullchapter/04510029.pdf
https://matematiku.wordpress.com/2011/02/23/mathematics-songs/
Holland, Roy.
1983. Kamus Matematika. Jakarta: Erlangga
Isfanhari,
Musafir. 2000. Pengetahuan Dasar Musik. Surabaya: Dinas P dan K
propinsi Jawa
Timur
Muhsetyo, Gatot.
19997. Dasar-Dasar Teori Bilangan. FIP MIPA IKIP Malang
Sudirma. 2001.
Teori Bilangan. F MIPA Universitas negeri Malang
Sukirman. 2005.
Pengantar Aljabar Abstrak. Malang: UM Press










No comments:
Post a Comment