Wednesday, 8 July 2015

saya dan senam lantai

            Senam lantai. Apa yang pertama kali kalian bayangkan saat kata senam lantai diucapkan? Kebanyakan orang masih belum mengenal salah satu cabang Olahraga ini, karena di Indonesia sendiri masih cukup jarang ditemukan, melihat peminatnyapun yang tidak cukup banyak seperti Olahraga Badminton dan Sepak Bola. Saya akan memperkenalkan anda terlebih dahulu, apa, bagaimana dan seperti apa Olahraga Senam Lantai itu.

Senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang olahraga tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga lainnya. Berlainan dengan cabang olahraga lain umumnya yang mengukur hasil aktivitasnya pada obyek tertentu, senam mengacu pada bentuk gerak yang dikerjakan dengan kombinasi terpadu dan menjelma dari setiap bagian anggota tubuh dari komponen-komponen kemampuan motorik seperti : kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelentukan, agilitas dan ketepatan. Dengan koordinasi yang sesuai dan tata urutan gerak yang selaras akan terbentuk rangkaian gerak artistik yang menarik.

Menurut asal kata, senam (gymnastics) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya: "untuk menerangkan bermacam-macam gerak yang dilakukan oleh atlet-atlet yang telanjang". Dalam abad Yunani kuno, senam dilakukan untuk menjaga kesehatan dan membuat pertumbuhan badan yang harmonis, dan tidak dipertandingkan. Baru pada akhir abad 19, peraturan-peraturan dalam senam mulai ditentukan dan dibuat untuk dipertandingkan. Pada awal modern Olympic Games, senam dianggap sebagai suatu demonstrasi seni daripada sebagai salah satu cabang olahraga yang teratur. Olahraga senam sendiri ada bermacam-macam, seperti : senam kuno, senam sekolah, senam alat, senam korektif, senam irama, turnen, senam artistik. Secara umum senam memang demikian adanya, dari tahun ke tahun mengalami penyempurnaan dan semakin berkembang. Yang dulunya tidak untuk dipertandingkan, namun sejak akhir abad 19 mulai dipertandingkan. Dibentuklah wadah senam internasional, dengan nama Federation International de Gymnastique (FIG), yang mengelola antara lain :
1. Senam Artistik (Artistic Gymnastics).
2. Senam Ritmik (Modern Rhytmic).

            Saya sendiri merupakan seorang atlet Senam Artistik sejak duduk di kelas 2 SD, dan sekarang saya adalah seorang mahasiswi Pendidikan Matematika di Universitas Siliwangi. Banyak yang bertanya mengapa saya lebih memilih Matematika ketimbang Olahraga yang sudah menjadi bakat atau kemampuan saya, dan inilah yang saya ingin bagikan dengan anda. Ini merupakan cerita bagaimana saya mulai menyukai Matematika melalui Olahraga Senam lantai.
            Saat saya duduk dikelas 2 SD, seorang guru Olahraga datang menemui saya dan dia berkata kepada saya untuk mengikuti latihan rutin Senam Lantai di Gedung Gelanggang Muda ( GGM ) setiap hari Rabu dan Sabtu jam 4 sore. Saat itu bukan hanya saya yang mengikuti latihan senam di GGM tapi teman – teman yang lainpun datang. Namun, hanya saya dan Dicky yang terus melanjutkan latihannya. Dicky adalah saudara kandung saya, anak dari adik ibu saya. Setelah hampir 1 tahun saya berlatih, pelatih mengajak / memilih saya untuk mengikuti PELATDA di Bandung saat itu. Itu merupakan pertandingan pertama saya setelah memenangkan kejuaran Senam Lantai antar kecamatan se-Kota Tasikmalaya. Disana semua atlet se-Jawa Barat berkumpul, dari mulai yang Junior sampai Senior sekitar dari umur 6 tahun sampai 26 tahun. Saya melihat ke sekitar saya, banyak papan – papan nilai disetiap alatnya. Senam Artistik sendiri memiliki beberapa alat dan antara perempuan dengan laki – laki itu berbeda. Untuk perempuan, terdapat 4 alat yaitu Lantai ( matras sepanjang 12 m x 12 m ), Meja Lompat ( Panjang 1.60 m, dan Tinggi 1.20 m), Palang Bertingkat ( Panjang 2.40 m, Tinggi palang bawah 1.50 m – 1.60 m dan Tinggi palang atas 2.30 m – 2.50 m), dan Balok Keseimbangan (Panjang 5m, dan Tinggi 1.20 m ).

Gambar 1. Alat Lantai
            Di alat Lantai ini, khusus untuk atlet putri diberikan batasan waktu yang harus dicapai dan tidak boleh kurang atau lebih yaitu selama 90 detik, dan diharuskan menggunakan musik sebagai pengiring rangkain gerakan. Kita juga tidak diperbolehkan untuk melewati batas garis yang sudah ditentukan atau berada di zona aman sepanjang 12 m x 2 m.

Gambar 2. Alat Meja Lompat
            Pada Meja Lompat, kita akan melakukan lari cepat di jalur yang disediakan, dengan panjang maksimal 25 meter, sebelum melompat ke spring board. Dengan memanfaatkan tolakan dari spring board,  kita mengarahkan tangannya ke meja lompat. Posisi tubuh dijaga sementara melakukan tolakan ( blok dari meja lompat hanya memanfaatkan pergerakan bahu) dengan alat meja lompat. Kita bisa melakukan lompatan seperti straddle, handspring, cukahara dan masih banyak yang lainnya. Biasanya kita akan diberi kesempatan 2 kali Lompatan.

Gambar 3. Palang Bertingkat
            Pada alat ini kita dituntut untuk melakukan gerakan dengan bertumpu pada kedua lengan saja. Kita juga harus melakukan gerakan di kedua palangnya secara bergantian. Biasanya gerakan yang dilakukan seperti giant ( front giant atau back giant ).

Gambar 4. Balok Keseimbangan
            Pada alat ini kita harus melakukan gerakan dengan memperhatikan keseimbangan yang penuh, karena melihat lebar dari alat ini sendiri hanya sebesar telapak kaki atau sekitar 10 cm. Gerakan di alat ini hampir sama seperti yang kita lakukan di Lantai, hanya saja dengan jarak dan ukuran yang diperkecil.

            Kembali lagi ke topik pembicaraan. Saat itu saya melihat disetiap alat, nilai yang keluar berbeda – beda. Saat itu juga saya mulai memusatkan perhatian saya ke satu alat saja yaitu Lantai. Saya masih bingung dari mana nilai – nilai itu didapat dan seperti apa sistematika penilaian dari juri – juri. Meskipun pada saat itu saya belum diberi kesempatan untuk mendapat gelar juara, namun saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Barulah dari sana saya mulai menggiatkan latihan saya, dan mulai memfokuskan diri untuk pertandingan selanjutnya. Sayangnya, ketika kemampuan saya sudah cukup meningkat baik, saya harus mengalami kecelakaan ketika latihan di Balok Keseimbangan yang menyebabkan saya harus mendapatkan operasi jahitan dan dirawat selama 3 hari di Rumah Sakit. Itu juga membuat saya tidak boleh melakukan aktivitas yang terlalu berat selama kurang lebih 2 bulan. Menyesal, marah, takut, kecewa semuanya bercampur aduk ditambah saya harus kehilangan kesempatan mengikuti pertandingan yang diadakan di Karawang saat itu dan juga mengalami trauma di alat Balok Keseimbangan. Untungnya itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap latihan. Saya selalu datang ke GGM untuk latihan, bukan latihan seperti biasanya hanya membaca buku kode poin dan melihat yang lainnya berlatih agar nanti saya bisa menyusul mereka. Ada rasa beruntung dalam diri saya ketika saya sedang sakit, yaitu saya dapat mempelajari bagaimana juri – juri melakukan penilaian terhadap gerakan – gerakan yang dilakukan. Di buku kode poin itu nampak jelas berapa poin yang akan didapatkan dalam satu buah gerakan, dan berapa banyak poin yang akan dikurangi ketika melakukan kesalahan. Saya mulai menuliskan semua rangkain gerakan saya, dan menjumlahkan poin – poin yang akan saya dapatkan pada akhirnya.
            Dalam kejuaraan yang resmi, penilaan senam didasarkan pada : Tingkat kesulitan = 2.40, Persyaratan khusus = 1.20, Nilai bonus = 1.40, Penampilan/ pelaksanaan = 5.00 dan Nilai maksimal = 10.00
Tingkat kesulitan berhubungan dengan persyaratan gerakan sulit yang harus dipenuhi oleh pesenam dalam satu rangkaiannya di satu alat. Dalam senam artistik, gerakan sulit dikelompokkan menjadi beberapa elemen, yaitu elemen gerakan A, elemen B, elemen C, elemen D dan elemen E. Elemen A adalah gerakan-gerakan yang masuk kategori gerakan dasar dan mudah. Ke dalam kelompok ini masuk gerakan-gerakan seperti guling depan-belakang, headspring, handspring, flic-flac, dan lain-lain. Elemen B adalah gerakan-gerakan yang lebih sulit dari elemen A. Contohnya adalah salto belakang dan salto depan termasuk ke dalam elemen B ini. Sedangkan elemen C diwakili oleh gerakan-gerakan seperti double salto belakang, salto belakang dua twist, salto depan satu putaran, dsb. Dan elemen D diwakili oleh gerakan seperti Double salto depan, double salto belakang lurus, dll. Adapun nilai dari setiap elemen adalah sebagai berikut: A = 0.10, B = 0.20, C = 0.40, D = 0.60, (elemen E tidak bernilai, karena hanya berguna untuk mendapat nilai bonus yang nilainya adalah 0.20.)
Persyaratan khusus menunjuk pada gerakan-gerakan yang memenuhi ciri-ciri yang dipersyaratkan oleh alat senam yang bersangkutan. Pada setip alat, selalu ada 3 buah persyaratan khusus, yang masing-masing bernilai 0,40. Sehingga jumlah maksimal dari faktor Persyaratan Khusus adalah 1,20, yaitu sebagai hasil dari 3 persyaratan khusus X 0,40 = 1,20. Jika seorang pesenam dalam rangkaiannya kekurangan satu buah persyaratan khusus, maka nilai faktor persyaratan khususnya adalah 0,80 : yaitu hasil dari : 1,20 - 0,40 (1PK) = 0,80. Bisa saja seorang pesenam tidak mendapat nilai sama sekali dalam faktor Persyaratan Khususnya, jika tidak ada satu pun gerakan yang dilakukannya termasuk yang dipersyaratkan. Oleh karena itu, ia bisa saja mendapat nilai NOL dari faktor PK-nya.

Nilai bonus dalam senam diperoleh jika pesenam menampilkan gerakan melebihi syarat tingkat kesulitan yang bernilai D. Misalnya jika pesenam mampu menampilkan 3 buah gerakan D dalam penampilannya, maka nilai bonusnya adalah 0,30: karena nilai bonus untuk gerakan D adalah 0,10. Jika pesenam mampu menampilkan 3 gerakan E, maka bonusnya 0,60: karena bonus untuk gerakan E = 0,20. Jadi tergantung dari nilai bonus yang berhasil dikumpulkan, nilainya akan bertambah terus. Dengan ketentuan tidak melebihi nilai maksimal 1,40.

Nilai maksimal dari pelaksanaan adalah 5,00. Cara penilaiannya sedikit berbeda dengan 3 faktor sebelumnya karena dari faktor pelaksanaan, apa yang harus dilihat wasit adalah kesalahan yang dilakukan oleh pesenam. Jika pesenam melakukan kesalahan, wasit akan memotong atau mengurangi nilainya dari 5,00. Tergantung dari kesalahannya, wasit akan memotong berdasarkan ketentuan sbb: Kesalahan kecil : 0,10 = Contohnya melangkah kecil, bengkok badan, atau tangan dan kaki. Kesalahan medium : 0,20 = Contoh : 2 langkah pada pendaratan, bengkok yang lebih besar. Kesalahan besar : 0,40 = Contoh : bertumpu dengan dua tangan ketika mendarat. Jatuh : 0,50 = Jika pesenam jatuh duduk atau terlentang/telungkup. Jadi jika pesenam melakukan satu atau beberapa kesalahan yang termasuk dalam kategori di atas maka nilai pelaksanaannya akan dipotong secara proporsional.  Dengan demikian, jika dari contoh di atas, seorang pesenam mengumpulkan nilai dari setiap faktornya seperti berikut : Tingkat kesulitan : 2,40, Persyaratan khusus : 0,80 (kurang 1 PH), Bonus : 0,30 (3 D), Pelaksanaan : 3,80 (5.00 - 1,20). Maka nilai akhir adalah : 7.30.

            Bayangkan betapa sulitnya seorang pesenam ketika ingin mendapatkan gelar juara dengan tuntutan kesempurnaan dalam setiap gerakan. Dari sanalah saya mulai sering melakukan sebuah perhitungan dengan sebuah peluang kesempatan yang akan terjadi. Sering sekali terjadi atau muncul sebuah kejanggalan disetiap saya mengikuti penilaian dari juri dengan penilaian yang saya lakukan sendiri.
            Setelah lulus SD saya melanjutkan sekolah ke SMP di SMPN 4 Tasikmalaya. Ketika SMP, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi perwakilan dari Kota Tasikmalaya di O2SN tingkat pelajar SMP se-Jawa Barat. Alhamdulillah saya dapat membawa pulang 3 buah medali, yaitu 1 perak di alat Lantai, dan 2 perunggu di alat Meja Lompat dan Palang bertingkat. Itu juga yang membawa saya dapat mengikuti Babak Kualifikasi PORDA saat itu. Sebelum layak untuk pergi bertanding dalam Babak Kualifikasi PORDA di UPI Bandung saat itu, saya dan semua atlet se-Kota Tasikmalaya mengikuti beberapa tes terlebih dahulu, seperti tes kesahatan dan tes fisik yang dilaksanakan di sekitaran kampus Universitas Siliwangi. Disana kami di tes daya tahan tubuh dengan berlari mengikuti ketukan musik dan semakin lama semakin cepat, selain itu ada tes kecepatan berlari sejauh 100 meter, push-up, sit-up, back-up selama 1 menit tanpa berhenti dan masih banyak yang lainnya. Setelah dinyatakan lulus, barulah kami siap bertanding pada Babak Kualifikasi PORDA. Nantinya akan dipilih masing – masing 4 orang putra dan putri untuk mewakili Kotanya sendiri. Beruntungnya saya dapat lolos, dan menjadi salah satu perwakilan Kota Tasikmalaya dalam PORDA saat itu. Kebiasaan saya masih belum berubah, saya masih sering menuliskan poin – poin dalam rangkaian yang saya punya. Pada saat latihanpun saya sering memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh atlet – atlet yang lain, agar menjadi sebuah bayangan nantinya agar saya dapat menghitung seberapa besar peluang yang akan didapatkan. Peluang kesempatan kami memang cukup kecil, dan ya terbukti ternyata kami hanya berbeda beberapa poin dengan yang juara ketiga. Meskipun saat itu saya belum bisa membawa pulang sebuah medali, saya juga sadar bahwa gerakan yang saya atau kami lakukan jauh berbeda dengan mereka atau atlet dari luar kota sepeti Bandung, Sukabumi yang memang memiliki fasilitas yang cukup memadai bahkan sangat layak dibandingkan dengan kami yang latihan dengan alat yang sealakadarnya. Meskipun begitu Kota Tasikmalaya masih sanggup membawa beberapa medali emas, perak dan perunggu.

            Setelah lulus SMP saya melanjutkan SMA di SMAN 1 Tasikmalaya melalui jalur prestasi. Tidak sedikit yang meremehkan saya hanya karena saya masuk melalui jalur prestasi dan tanpa harus mengikuti tes tulis dan wawancara terlebih dahulu. Padahal tanpa mereka sadari, saya sebenarnya menyimpan amanah yang cukup besar dengan harus membawa nama baik SMAN 1 Tasikmalaya dalam bidang Olahraga khususnya Senam Lantai. Selama SMA saya selalu mendapatkan medali emas pada pertandingan antar SMA se-Kota Tasikmalaya saat itu. Saat SMA pula, saya ditunjuk oleh pelatih saya untuk mengikuti pelatihan sebagai seorang pelatih senam lantai. Disana saya diberikan materi dan penjelasan mengenai bagaimana cara melatih seorang pemula agar menjadi seorang yang professional dan diajari pula bagaimana cara menilai atau menjadi seorang juri. Saya mendapatkan kesempatan yang sangat luar biasa, dimana saya dapat meningkatkan kemampuan saya dalam menghitung sebuah rangkaian gerakan beserta peluangnya. Kemampuan Matematika disini sangat dibutuhkan sekali, meskipun memang masih perhitungan yang cukup sederhana namun itu sangat berarti bagi seorang atlet atau bahkan pelatihnya.

            Tanpa disadari, Matematika selalu ada bahkan selalu berdampingan dengan kehidupan manusia. Sekecil apapun itu, sesederhana apapun, atau bahkan serumit apapun sebuah perhitungan, itu tetap disebut dengan Matematika. Matematika itu semacam sebuah jiwa dimana sebuah jiwa dapat hidup dan terus berkembang setiap harinya bahkan jika waktunya datang, disaat jiwa itu sudah mati atau padam maka yang ada hanyalah sebuah kekosongan. Inilah waktu yang tepat untuk membuat Matematika itu tetap hidup  dan berkembang sebelum semuanya menjadi terlambat. Apakah ini sebuah pilihan ataukah hanya sebuah alasan? Itu semua tergantung bagaimana kita mendefinisikannya.

No comments:

Post a Comment

saya dan senam lantai

            Senam lantai. Apa yang pertama kali kalian bayangkan saat kata senam lantai diucapkan? Kebanyakan orang masih belum mengenal ...